DENPASAR — Pemerintah Kabupaten Balangan memberikan perhatian terhadap pengembangan talenta muda dan inovasi mahasiswa sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi potensi daerah. Hal tersebut disampaikan Hj. Ernawati, S.STP., M.M., Plt. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Balangan, saat hadir mewakili Bupati Balangan dalam Kuliah Umum di Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM University).
Dalam kegiatan tersebut, Ernawati menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak cukup hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Mahasiswa perlu didorong untuk mampu mengembangkan bakat dan minat, menghasilkan inovasi, serta mengubah pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi menjadi karya dan produk yang memiliki nilai tambah.
“Talenta itu bakat dan minat. Kemudian talenta diasah melalui pendidikan, melahirkan inovasi, dan inovasi tersebut diwujudkan menjadi entrepreneurship yang memberikan value added bagi individu maupun daerah,” ujar Ernawati.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem tersebut. Kampus bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk melakukan riset, mengembangkan gagasan, menguji inovasi, dan menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat serta potensi ekonomi daerah.
Pendidikan dan Beasiswa sebagai Investasi SDM
Dalam kesempatan tersebut, Ernawati juga memaparkan pengalaman Pemerintah Kabupaten Balangan dalam meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai kebijakan pendidikan, salah satunya Program Beasiswa 1.000 Sarjana.
Program tersebut pada awalnya menetapkan target minimal 1.000 penerima. Namun hingga saat ini, pemerintah daerah telah membiayai sekitar 3.780 mahasiswa dan menjalin kerja sama dengan kurang lebih 60 perguruan tinggi di Indonesia.
“Namanya memang Beasiswa 1.000 Sarjana, tetapi definisi operasionalnya adalah minimal 1.000. Sampai sekarang sudah sekitar 3.780 yang kita biayai dan sudah bekerja sama dengan kurang lebih 60 universitas atau perguruan tinggi di Indonesia,” jelasnya.
Bantuan diberikan dalam bentuk pembiayaan pendidikan berupa UKT maupun SPP selama masa studi bagi mahasiswa yang memenuhi ketentuan.
Bagi Pemkab Balangan, kebijakan tersebut merupakan investasi jangka panjang. Pendidikan diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan mahasiswa memperoleh gelar, tetapi berlanjut pada kemampuan lulusan untuk menciptakan manfaat, lapangan kerja, inovasi, maupun kontribusi bagi pembangunan daerah.
Mahasiswa sebagai Penggerak Hilirisasi Potensi Daerah
Ernawati menilai konsep hilirisasi perlu dikenalkan kepada mahasiswa sejak berada di bangku perguruan tinggi. Pengetahuan dan hasil penelitian tidak seharusnya berhenti pada ruang kelas atau menjadi dokumen akademik, tetapi perlu diarahkan agar dapat menghasilkan produk, layanan, teknologi, maupun model usaha yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Salah satu contoh yang diangkat adalah mandai, olahan kulit cempedak yang merupakan bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Banjar.
Menurut Ernawati, mandai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh melalui riset dan inovasi. Mahasiswa dapat mengkaji kandungan bahan, metode pengolahan, diversifikasi produk, pengemasan, hingga potensi pasarnya.
“Ini menjadi homework bagi anak-anak Balangan. Bagaimana mandai tidak hanya diasinkan, digoreng, atau dibuat abon, tetapi bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang berbeda melalui riset,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hilirisasi tidak selalu harus berawal dari teknologi tinggi. Potensi lokal yang sudah ada di masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan, penelitian, kreativitas, dan entrepreneurship.
Kolaborasi Pemerintah dan Perguruan Tinggi
Untuk mendorong lahirnya inovasi yang dapat memberikan dampak nyata, Ernawati menilai diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Pemerintah memiliki kebijakan serta sumber daya pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki kapasitas dalam pendidikan, riset, pengembangan kurikulum, dan pendampingan akademik.
“Pemerintah daerah memiliki kebijakan dan sumber daya pembangunan, sementara perguruan tinggi memiliki keunggulan riset, kurikulum, dan pendampingan akademik. Kolaborasi ini menyatukan dua kekuatan untuk mencetak SDM Balangan yang unggul dan berdaya saing global,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, BIM University dinilai memiliki ruang strategis untuk mempertemukan mahasiswa dengan berbagai pengalaman dan perspektif di luar lingkungan kampus.
Kehidupan akademik di Bali, yang bersinggungan dengan sektor pariwisata, budaya, hospitality, ekonomi kreatif, teknologi, dan industri, dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah potensi dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi.
Talenta Digital Dibutuhkan untuk Pembangunan Daerah
Selain potensi pangan dan ekonomi kreatif, Ernawati juga menyoroti kebutuhan Kabupaten Balangan terhadap talenta di bidang teknologi informasi dan digitalisasi pemerintahan.
Transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan membutuhkan generasi muda yang memiliki kompetensi teknologi sekaligus mampu memahami persoalan pembangunan di daerah.
“Diharapkan dengan lahirnya calon-calon IT, calon-calon ahli teknologi pertanian, dan bidang lainnya, mereka bisa memberikan sumbangsih bagi Kabupaten Balangan,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membangun kompetensi yang memungkinkan mereka menciptakan solusi dan peluang baru.
Ernawati juga mengingatkan bahwa masa depan lulusan perguruan tinggi tidak harus selalu diarahkan menjadi aparatur sipil negara (ASN).
“Mindset bahwa setelah lulus kuliah harus menjadi ASN itu keliru. Peluang kerja sangat banyak. Kita harus memperoleh earn of living dari kreativitas dan skill yang kita miliki,” tegasnya.
Dari Talenta Menjadi Inovasi dan Nilai Tambah
Pengembangan talenta, menurut Ernawati, harus memiliki kesinambungan. Bakat dan minat mahasiswa perlu diasah melalui pendidikan, kemudian diarahkan menjadi inovasi yang dapat menghasilkan nilai tambah.
Dalam kerangka tersebut, mahasiswa memiliki peluang menjadi agent of change di tengah masyarakat. Kemajuan teknologi digital bahkan memungkinkan generasi muda menciptakan karya dan mengembangkan usaha tanpa harus dibatasi oleh kondisi geografis.
“Kenapa mahasiswa tidak bisa menjadi agent of change bagi masyarakat lain yang ada di Balangan?” katanya.
Pemkab Balangan juga memandang penting adanya kesinambungan antara program pendidikan dengan pembangunan daerah. Setelah menyelesaikan pendidikan, para penerima beasiswa diharapkan dapat mengambil bagian dalam pengembangan daerah, baik melalui dunia kerja, kewirausahaan, riset, teknologi, maupun pengembangan sektor UMKM dan ekonomi kreatif.
BIM University Perkuat Ekosistem Hilirisasi
Bagi BIM University, kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang berorientasi pada dampak. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan riset, kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan.
Kuliah umum tersebut sekaligus memperkuat gagasan bahwa pembangunan SDM dan hilirisasi harus berjalan beriringan. Talenta muda yang memperoleh pendidikan berkualitas perlu diberikan ruang untuk mengembangkan gagasan dan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
Pendidikan, kata Ernawati, harus dipandang sebagai investasi yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Pendidikan dipandang sebagai investasi, bukan biaya. Dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi dalam jangka panjang,” tuturnya.
Melalui sinergi antara Pemkab Balangan dan BIM University, mahasiswa diharapkan mampu bergerak dari sekadar penerima manfaat pendidikan menjadi pelaku perubahan. Talenta yang tumbuh melalui pendidikan diharapkan melahirkan inovasi, sementara inovasi tersebut dapat dihilirkan menjadi produk, layanan, teknologi, maupun usaha yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Surah Ar-Ra’d ayat 11, bahwa perubahan membutuhkan ikhtiar dari manusia untuk mengubah keadaan dirinya sendiri.
Dengan demikian, penguatan talenta muda bukan hanya investasi bagi individu, tetapi juga bagian dari strategi membangun daerah. Mahasiswa diharapkan menjadi generasi yang mampu menghubungkan pendidikan, riset, inovasi, entrepreneurship, dan hilirisasi untuk menghasilkan kontribusi nyata bagi Kabupaten Balangan maupun Indonesia.












