en

Menuju Indonesia Cemas 2045: Mimpi Emas Terancam Realita

by | May 15, 2025 | Berita, News | 0 comments

Visi Indonesia Emas 2045 dalam RPJPN 2020–2045 menekankan pentingnya ketahanan ekologis: pembangunan harus berjalan tanpa melupakan daya dukung lingkungan. Namun jika isu-isu kunci tak segera diatasi, ada kekhawatiran Indonesia akan menyongsong masa depan yang penuh kecemasan. Sejumlah studi dan pengamat memperingatkan, tanpa penanganan ketimpangan ekonomi, bonus demografi bisa menjadi beban dan krisis berkepanjangan.

Krisis Iklim yang Mengerikan

Indonesia semakin sering dilanda anomali iklim. Produksi pangan terganggu, misalnya pada Januari–September 2023 impor beras melonjak tiga kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya akibat gagal panen karena kekeringan dan banjir. Fenomena banjir dan kekeringan pun marak. BNPB melaporkan pada Januari–Mei 2023 hampir seluruh bencana (99%) adalah hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan). Situasi itu menimbulkan kecemasan besar, terutama di kalangan anak muda. Survei Litbang Kompas (Juni 2022) menunjukkan 64,4% responden usia 24–39 tahun merasa sangat khawatir akan krisis iklim. Temuan global senada mengungkapkan lebih dari 75% remaja (16–25 tahun) di berbagai negara menganggap masa depan mereka mengerikan akibat krisis iklim.

Ketimpangan dan Kerentanan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi belum menyelesaikan masalah kesenjangan. Data Susenas 2023 mencatat lebih dari 25 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, sekitar 90 juta tergolong hampir miskin, dan 115 juta lagi termasuk rentan miskin. Artinya, ratusan juta penduduk masih sangat rentan terhadap goncangan ekonomi. Ekonom UGM Wisnu Nugroho menyoroti bahwa pertumbuhan saat ini cenderung “trickle down”. Trickle down sendiri menyatakan bahwa golongan atas makin kaya, sementara kelas menengah bawah stagnan. Dalam kondisi ini, kelas menengah atas makin makmur sedangkan kelas menengah bawah sulit menikmati kesejahteraan, memperlebar jurang kesenjangan. Ketidakadilan semacam ini memupuk kekecewaan generasi muda dan mengancam stabilitas sosial.

Darurat Kesehatan Mental Anak Muda

Isu kesehatan mental remaja juga memicu kekhawatiran serius. Survei I-NAMHS (2022) –survei nasional pertama tentang kesehatan mental remaja– menemukan 1 dari 3 remaja Indonesia (usia 10–17 tahun) memiliki masalah kesehatan mental. Jumlah ini setara dengan sekitar 15,5 juta remaja. Gangguan kecemasan dan stres sangat umum, sementara hanya 2,6% remaja yang mengalami masalah tersebut mencari bantuan profesional dalam setahun terakhir. Data Polri 2023 pun mengguncang: tercatat 1.226 kasus bunuh diri di kalangan penduduk, dan WHO mencatat bunuh diri kini menjadi penyebab kematian ketiga pada remaja usia 10–19 tahun. Kondisi ini menunjukkan penanganan kesehatan mental belum memadai, sehingga rasa putus asa dan kecemasan di kalangan generasi muda terus meningkat.

Bonus Demografi di Ujung Pisau

Saat ini Indonesia berada di puncak bonus demografi, di mana mayoritas penduduk ada di usia produktif. Banyak pakar memperkirakan Indonesia bisa menjadi ekonomi dunia ke-5 berkat kondisi ini. Namun, peneliti Kompas mengingatkan: jika bonus demografi tidak dikelola serius, justru bisa memicu ketimpangan dan kemiskinan baru. Masalah seperti ketidaksesuaian antara jumlah penduduk dan lapangan kerja, kelangkaan pangan, serta akses pendidikan yang tidak merata dapat mengubah “emas” demografi menjadi beban. Beban besar generasi usia kerja harus menanggung orang tua dan anak (fenomena generasi sandwich) juga berisiko menurunkan produktivitas. Jika tidak diantisipasi, peluang strategis Indonesia 2045 ini malah menjadi ancaman bagi kesejahteraan nasional.

Peran Universitas Menyiapkan Generasi Tangguh

Di tengah tantangan berat ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh, kritis, dan solutif. Para ahli menekankan pentingnya kampus menyelaraskan misi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui riset dan inovasi, edukasi publik, pengabdian masyarakat, hingga pengaruh kebijakan. Misalnya Prof. Riri Fitri (Ketua UI GreenMetric) menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan dalam setiap kegiatan akademik. Mantan Menteri Lingkungan Rachmat Witoelar pun mengatakan perguruan tinggi adalah tempat strategis menempa mental pemuda agar mampu memahami dan menyuarakan kepedulian terhadap perubahan iklim serta tantangan lingkungan lainnya. Dengan pendekatan seperti ini, universitas dapat mendidik mahasiswa menjadi warga negara yang kritis, inovatif, dan siap bertindak – bukan hanya terdidik secara akademis, tetapi juga peka sosial dan solutif menghadapi persoalan iklim, sosial-ekonomi, dan kesehatan mental.

Indonesia menuju 2045 bukanlah takdir pasti, dengan kebijakan tegas dan pendidikan berkualitas, kecemasan 2045 bisa diubah menjadi harapan. Pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan tinggi harus berkolaborasi aktif menciptakan perubahan nyata. Hanya dengan kesiapan bersama, Indonesia bisa memastikan visi emas masa depan terwujud – bukan menjadi generasi yang hanya menatap masa depan dengan cemas.

Sumber: Berbagai riset dan laporan media massa terkemuka serta lembaga riset nasional dan internasional.

Beasiswa Icon KLAIM BEASISWA