DENPASAR — Kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan potensi usaha di lingkungan keluarga kembali menunjukkan keterkaitannya dengan pembelajaran kewirausahaan di Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (UBIM). Mutia Devi Rosita Rachma, mahasiswa Program Studi Kewirausahaan UBIM, memilih usaha peyek milik keluarganya sebagai objek dalam tugas akhir yang disusunnya.
Pilihan tersebut tidak sekadar mengangkat produk makanan tradisional sebagai bahan kajian akademik. Mutia juga menjadikan aktivitas bisnis keluarganya sebagai ruang untuk mengamati, menganalisis, sekaligus merancang pengembangan usaha berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Usaha peyek yang dijalankan keluarganya telah berkembang melampaui pasar konsumen sekitar. Produk tersebut kini telah dipasarkan melalui sejumlah hotel dan toko oleh-oleh di Bali. Perkembangan tersebut menjadi salah satu potensi yang dikaji untuk melihat sejauh mana usaha makanan tradisional dapat ditingkatkan dari sisi pengelolaan maupun jangkauan pasar.
Peyek sendiri memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan bisnis makanan, mulai dari cita rasa yang khas hingga daya simpan yang cukup baik. Dengan pengelolaan yang tepat, produk tradisional tidak hanya berpeluang mempertahankan pasar lokal, tetapi juga dapat menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk wisatawan yang mencari produk kuliner khas.
Menghubungkan Teori Perkuliahan dengan Praktik Usaha
Melalui tugas akhirnya, Mutia melakukan pemetaan terhadap berbagai aktivitas yang berlangsung dalam bisnis keluarga tersebut. Kajian mencakup sejumlah aspek penting, seperti pengelolaan tenaga kerja, alur produksi, ketersediaan bahan baku, pengemasan, pemasaran, pencatatan keuangan, distribusi, hingga peluang ekspansi pasar.
Pendekatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk memahami bahwa pengelolaan bisnis memiliki tantangan yang kompleks dan tidak selalu dapat dipahami hanya melalui teori.
Dosen pembimbing tugas akhir, Dr. Cuk Taruna Hendrajaya, S.E., M.M., menilai usaha keluarga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa kewirausahaan.
“Usaha keluarga ini menjadi laboratorium pembelajaran yang sangat nyata. Mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana sebuah produk tradisional diproduksi, dipasarkan, menghadapi persaingan, dan kemudian berkembang hingga mampu masuk ke hotel dan toko oleh-oleh,” ujarnya.
Mendorong Profesionalisasi Pengelolaan Usaha
Dalam proses penyusunan tugas akhir, perhatian Mutia tidak hanya diarahkan pada pengembangan produk peyek. Aspek yang lebih luas adalah bagaimana membangun tata kelola usaha agar bisnis dapat berkembang secara lebih terstruktur dan profesional.
Pemetaan kondisi usaha dilakukan untuk menemukan sejumlah bagian yang masih dapat ditingkatkan. Dari proses tersebut kemudian disusun berbagai rekomendasi, mulai dari pembenahan operasional, pembagian tugas, strategi pemasaran, sistem pencatatan keuangan, hingga penguatan identitas produk melalui kemasan dan branding.
Strategi pengembangan pasar juga menjadi bagian penting dalam kajian tersebut. Penguatan jaringan pemasaran dinilai diperlukan agar usaha tidak hanya bergantung pada konsumen yang sudah ada, tetapi memiliki peluang untuk menjangkau segmen pasar baru.
Dengan pendekatan tersebut, tugas akhir tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan masukan yang aplikatif bagi keberlangsungan dan pertumbuhan usaha keluarga.
Kuliner Tradisional sebagai Potensi Ekonomi
Pemilihan peyek sebagai objek tugas akhir turut memperlihatkan bagaimana produk tradisional dapat dikembangkan melalui pendekatan kewirausahaan. Produk yang telah dikenal masyarakat tidak selalu harus digantikan dengan produk baru untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.
Inovasi dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas, konsistensi produksi, desain kemasan, penguatan merek, strategi pemasaran, serta penyesuaian dengan kebutuhan konsumen.
Keberadaan produk peyek di hotel dan toko oleh-oleh di Bali menjadi gambaran bahwa makanan tradisional memiliki peluang untuk masuk ke saluran pemasaran yang lebih luas apabila didukung dengan pengelolaan usaha yang memadai.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut sekaligus menjadi pembelajaran bahwa membangun bisnis dapat dilakukan dengan mengidentifikasi potensi yang sudah tersedia di lingkungan sekitar, kemudian mengembangkannya melalui pendekatan yang lebih sistematis.
Tugas Akhir yang Memberikan Nilai Tambah
Program Studi Kewirausahaan UBIM terus mendorong agar tugas akhir mahasiswa memiliki keterhubungan dengan persoalan dan kebutuhan dunia usaha. Pendekatan berbasis bisnis keluarga menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berperan tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pemecah masalah dalam konteks bisnis.
Melalui proses tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman untuk memahami bagaimana sebuah usaha dipertahankan, menghadapi tantangan operasional, membaca peluang pasar, sekaligus merancang strategi pertumbuhan.
Perjalanan usaha peyek keluarga Mutia menjadi contoh bahwa bisnis yang berawal dari lingkungan rumah tangga dapat berkembang ketika dikelola dengan pendekatan kewirausahaan yang tepat. Produk yang semula diproduksi dalam skala keluarga kini telah menjangkau hotel dan toko oleh-oleh di Bali, sementara proses pengembangannya menjadi bagian dari karya akademik mahasiswa UBIM.
Bagi UBIM, pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan kewirausahaan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menciptakan bisnis baru, tetapi juga bagaimana mengidentifikasi potensi, menyelesaikan persoalan bisnis, dan menciptakan strategi agar usaha yang telah berjalan mampu tumbuh secara berkelanjutan.












